JellyPages.com

Minggu, 30 Desember 2012

cerita hantu : cinta mati

Kisah mistis ini sungguh-sungguh telah menimpa seorang sahabat saya (Penulis-Red). Demi menjaga privacy mereka, nama-nama tokoh sengaja telah disamarkan....

Kehilangan sesuatu yang kita cintai sungguh merupakan hal yang sangat menyakitkan. Apalagi kehilangan seorang pujaan hati, dambaan kalbu. Sungguh, ini kenyataan yang sangat pahit. Setidaknya, begitulah yang dialami Anita. Sejak kehilangan Andi, hidupnya serasa tak berarti. Hari-harinya penuh dengan kesedihan. Batinnya selalu dilanda gemuruh tak menentu yang membuatnya kembali menangis, menangis, dan menangis.
"Sudahlah, lupakanlah Andi, Nita! Sepanjang waktu pun kau menangis, dia tidak akan bisa kembali bersama kita," bujuk Siska, sahabat setianya yang selalu mencoba menghibur dan memberi harapan-harapan baru.
Siska boleh saja bicara seperti itu, sebab dia memang tidak merasakan apa yang dialami oleh Anita. Kematian Andi baginya merupakan kenyataan pahit yang sangat sulit dipercaya. Bagaimana mungkin dia bisa memperacayainya. Hanya sekitar satu jam sebelum malaikat maut merenggut nyawa Andi, Anita baru saja bersamannya. Bahkan mereka baru saja melakukan hal yang sama sekali terlarang bagi keduanya.
Ya, malam minggu itu sejak sore hingga malam hari mereka menikmatinya berdua saja. Mulanya mereka memadu kasih di tepi pantai sambil membicarakan tentang masa depan yang akan mereka jalani bersama. Entah setan mana yang akhirnya menuntun mereka melangkah ke kamar sebuah losmen sederhana. Di sanalah cinta mereka saling berlabuh. Andi memacu hasrat cintanya, dan Anita hanya bisa mendesah dan menjerit kecil dalam kepasrahan sorgawi. Lalu segalanya berubah begitu cepat. Kenikmatan itu sepertinya hanya sesaat saja mereka reguk. Di saat peluh belum lagi mengering, mereka telah terjerambab ke dalam jurang penyesalan. Anita hanya bisa menangisi sesuatu yang hilang dari dirinya. Miliknya yang paling berharga.
"Maafkan aku, Nita. Tidak seharusnya kita melakukan perbuatan ini, Sayang!" bisik Andi dengan mata nanar dan wajah pucat.
Anita menggeleng pelan sambil menggigit bibirnya yang indah. Dia pun coba membohongi dirinya, "Tidak, Sayang! Aku menangis begini justeru karena aku bahagia."
Mereka pun berpelukan mesra. Dan mereka mencoba untuk tidak menyesalinya.
Malam itu mereka pergi meninggalkan kamar losmen dengan hati yang mencoba sungguh-sungguh bahagia dengan kenistaan yang telah mereka lakukan. Dengan pelukan erat tangan Anita yang duduk di jok belakang, Andi memacu Kawasaki Ninja-nya menembus kegelapan malam. Andi yang senang ngebut tentu tak pernah mau kompromi dengan sepeda motornya. Dia memacu kendaraan itu nyaris seperti lesatan anak panah dari busurnya. Begitu cepat, hingga beberapa kali Anita harus mencubit pinggangnya agar sang kekasih mengurangi laju kendaraannya. Tapi Andi hanya mau mengerti sedikit saja. Hanya sesekali dia mengurangi laju sepeda motor ber-CC besar itu. Setelah itu dia kembali ngebut, hingga hanya sepuluh menit kemudian mereka tiba di rumah Anita.
Waktu itu jarum jam telah menunjukkan pukul 24 WIB lewat beberapa menit. Karena malam sudah cukup larut, Andi terpaksa tidak mampir lagi di rumah Anita. Setelah mengantar gadis kelas 3 SMA itu sampai depan pintu rumahnya, Andi pun segera berpamitan. Anita pun tidak memaksanya untuk singgah karena malam memang sudah hampir larut.
"Hati-hati, jangan ngebut ya, Sayang!" pesan Anita. Aneh, tak seperti biasanya dia berpesan seperti ini, sebab dia telah tahu hobi berat pacarnya itu. Dipesan seribu kali pun Andi pasti akan tetap ngebut.
Entah mengapa, Anita mengucapkan pesan tersebut malam itu. Mungkin hal ini semata-mata karena didorong oleh nalurinya yang memberi tahu bahwa akan terjadi sesuatu pada diri Andi, pacarnya. Dan kenyataannya memang seperti itulah. Satu jam setelah kepergian Andi, Anita yang sedang melamunkan sensasi mesra yang baru saja dilakukannya bersama Andi, tiba-tiba dikejutkan oleh bunyi ponselnya. Dan keterkejutannya kian sempurna ketika dia mendengar kabar dari seseorang nun jauh di sana.
"Andi baru saja tabrakan. Kalau sempat, lekaslah kau ke rumah sakit, Nita!"
Demikianlah kabar yang membuat Anita sekali lagi harus menumpahkan air matanya....
***

Anita jatuh tak sadarkan diri ketika malam itu tiba di rumah sakit dan mendapat berita bahwa Andi telah menghembuskan nafasnya yang terakhir. Dia sulit percaya dengan kenyataan yang sepertinya begitu cepat terjadi ini.
Tapi, memang begitulah yang telah telah terjadi. Andi harus mati karena kecerobohannya sendiri. Malam itu di jalanan dia mendapatkan musuh pengendara sepeda motor yang lain, yang mengajaknya balapan. Bagi Andi, pantang didahului oleh siapa pun ketika sedang ngebut. Namun sepeda motor itu tiba-tiba saja menyalipnya. Andi tentu saja panas hatinya. Dia segera mengejar sepeda motor itu. Kejar-kejaran pun terjadi. Dengan sepeda motor yang ber-CC besar Andi tentu saja berhasil menyalip. Namun dia rupanya lengah. Saat jalanan menikung, di sana ada sebuah mesin perata jalan yang tengah terparkir. Andi tak menduga sama sekali. Dia terlambat mengantispasi. Dengan kecepatan 150 Km. perjam sepeda motornya menghantam roda besi mesin itu. Andi terpental beberapa puluh meter. Kawasaki Ninja-nya ringsek dan patah menjadi dua bagian. Sementara itu tubuh Andi yang hanya terbuat dari tulang dan daging itu mengalami keadaan yang lebih parah. Tubuh itu remuk dengan kepala pecah. Andi pun meninggal di tempat kejadian.
Betapa tragis kematian Andi. Kenyataan inilah yang sulit diterima oleh Anita. Namun sesungguhnya bukan semata kepergian Andi yang tragis itu yang terus membuatnya bersedih. Kesedihan Anita juga ditambahi oleh apa yang telah dilakukan oleh Andi malam itu atas dirinya. Ya, tiba-tiba saja Anita menganggap betapa tidak adilnya kehidupan ini. Mengapa kehidupan harus berlalu dari diri Andi ketika cowok itu telah menanamkan noda di tubuhnya?
Sesungguhnya hal itulah yang membuat air mata Anita selalu mengalir deras, sehingga Siska yang paling dekat dengannya pun sulit untuk menghiburnya dari kesedihan.
"Sampai kapan kau akan terus menangisi kepergian Andi, Nita? Relakanlah dia berpulang ke sisiNya. Jangan bebani dia dengan tangismu!" bujuk Siska seperti seorang ibu yang berusaha meminumkan obat kepada anaknya yang masih balita.
Anita hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sambil berusaha menghentikan tangisnya. Tak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya, kendati sebenarnya dia sangat ingin menceritakan hal yang sebenarnya kepada Siska. Namun dia takut Siska bukannya bersimpati, apalagi memberikan jalan keluar untuk dirinya, malahan Siska akan membenci dan mencemoohnya. Bahkan tidak menutup kemungkinan Siska yang alim itu akan berubah benci dan menganggap dirinya sebagai gadis murahan.
***

Karena pukulan batin yang teramat berat, Anita yang selama ini dikenal sebagai primadona di SMA-nya itu akhirnya mengalami banyak perubahan. Hari-harinya tak lagi ceria. Kecantikannya pun mulai pudar. Lihatlah, rambutnya yang dulu indah tergerai kini berubah kusut masai tak terawat lagi. Kulitnya yang halus pun kini mulai tumbuh bintik-bintik merah dan kehitaman karena dia sudah malas mandi. Sehari-hari kerjanya hanya mengurung diri di dalam kamar. Dia bahkan sudah melupakan sekolahnya.
Pada malam 40 hari kematian Andi, Anita tiba-tiba berteriak-teriak histeris dan memohon agar Andi membawanya pergi bersamanya.
"Bawalah aku, Andi…! Aku ikut…aku ikut, Sayang!"
Begitulah kata-kata yang diucapkan Anita dalam rintih, tangis dan jeritannya. Ayah dan ibunya berusaha menenangkannya, termasuk juga kakak dan adiknya, serta pembantu yang bekerja di rumah itu.
"Sadarkah, Nak! Lupakanlah, Andi. Relakanlah dia pergi!" bujuk ayahnya.
Keluarga itu berusaha menenangkan Anita tidak hanya dengan bujuk rayu. Mereka juga berusaha menenangkan dengan kekuatan tenaga sebab Anita selalu memberontak dan ingin berlari menyusul Andi.
"Andi aku ikut! Tunggu aku, Andi!" pekik Anita berulang-ulang.
Apa yang sesungguhnya terjadi? Malam itu, tanpa seorang pun tahu sebenarnya Anita sungguh-sungguh merasakan kehadiran Andi. Cowok itu datang kepadanya dengan pakaian serba putih. Dan dia selalu melambai-lambaikan tangannya, mengajak Anita pergi bersamanya. Karena itulah kemudian Anita memanggil-manggil Andi, hingga akhirnya mencemaskan seluruh penghuni rumah itu.
Setelah lepas 40 hari kematian Andi, Anita memang selalu merasakan kehadiran Andi di dalam kamarnya. Bayangan lelaki itu kerap muncul dengan pakaian serba putihnya, sehingga Andi nampak sangat tampan dan mempesona. Namun di waktu lain Andi justeru muncul dalam wujud yang menyeramkan. Ya, terkadang dia hadir dalam bayangan sosok tubuh yang hancur dan kepala remuk, sehingga tampaklah cairan otaknya yang meleleh.
Dalam kenyataan lain, akibat melihat penampakan-penampakan seperti itu Anita kerap merengek-rengek minta ikut bersama Andi. Namun di saat yang lain Anita pun kerap menjerit-jerit ketakutan. Keluarganya pun hampir setiap malam selalu sibuk menenangkannya. Mereka juga telah mendatang dokter, psikiater, bahkan dukun untuk coba membujuk Anita agar melupakan Andi. Namun semuanya seperti sia-sia. Bahkan, paranomal yang diminta tolong mengatakan bahwa Anita takkan pernah bisa terlepas dari bayangan arwah Andi. Alasannya? "Mereka satu sama lain telah terikat pada sumpah sehidup semati," kata si paranormal.
Memang, malam itu selepas melakukukan hubungan yang sangat terlarang itu, mereka telah mengikrarkan sumpah untuk saling mencinta sehidup semati. Sumpah ini ternyata telah menjadi semacam ikatan gaib antara Anita dan Andi, sehingga setelah mati pun Andi selalu mendatangi Anita, di saat malam dan di saat gadis itu sunyi dalam kesendirian.
Arwah Andi terus mengunjungi Anita, hingga akhirnya Anita pun tak kuasa menahan kerinduan. Dia menderita sakit. Dalam sakitnya dia selalu menyebut-nyebut nama Andi. Seminggu setelah terbaring sakit, di suatu malam gelap berselimut hujan, Anita menghembuskan nafas terakhirnya. Semua orang menangisi kepergiannya. Namun, Anita telah pergi bersama cinta dan dan kerinduannya. Juga bersama dosa yang hitam.

cerita hantu : ciawi

Inilah tanda manusia tak tahu diri. Waktu di Ciawi, meronta-ronta minta pulang. Sudah di Surabaya, malah kangen berat pada Ciawi. Sebagai pengobat rasa rindu, mulai hari ini saya akan mem-posting kisah-kisah di Ciawi. Mulai dari yang seram, yang menyenangkan, yang lucu, yang seru, sampai yang sedih. Tulisan bertema Ciawi ini tidak dibuat berdasarkan kronologis peristiwa, ya seingatnya saja.

Sebagai pembuka, aku pengen cerita tentang kisah seramku di Ciawi. Memang kampusku ini dikenal sebagai tempat yang agak-agak menyeramkan. Dari awal kami sudah diingatkan agar menjaga sikap selama di kampus. Jangan sampai pikiran kosong, bisa kesambet katanya.

Nah, akhirnya tiba giliranku merasakan seramnya kampus. Kejadiannya pada hari-hari awal masa training. Malam itu aku ketiduran karena capek banget. Sekitar jam 2 dinihari, aku bangun. Sadar kalau belum sikat gigi, aku beranjak ke kamar mandi. Suasana kamar saat itu sepi, anak-anak sudah pada tidur. Semua pintu dan jendela terkunci, tirai juga ditutup. Kondisi dalam kamar tidak mungkin diketahui orang di luar.

Waktu aku berjalan ke kamar mandi, dari pintu depan aku mendengar suara cowok memanggil-manggil,”Ria… Ria….”

Menyeramkan. Kalaupun ada teman cowok yang kebetulan lewat, mana mungkin dia tahu kalau aku sedang terbangun. Aku juga nggak kenal itu suara siapa. Tapi karena aku ngantuk, jadi dengan santai aku tetap sikat gigi, pipis, dan kembali tidur. Pas balik ke tempat tidur sebenarnya aku juga mendengar suara cowok berbincang-bincang dari pintu belakang.

Aduh, sekarang bulu kudukku jadi merinding mengingatnya.

Besoknya, aku baru sadar kalau pengalaman semalam sebenarnya seram sekali. Untung aku nggak dengan polos menyahut,”Iya ini Ria, itu siapa?”. Teman-temanku juga pada bergidik mendengarnya. Segera gosip menyebar di kelas: “Tadi malam Ria diajak kenalan sama hantu!”. Positifnya sih, sejak malam itu aku jadi lebih rajin berdoa-doa supaya nggak kejadian lagi.

Nah, ternyata bukan aku satu-satunya yang mengalami kejadian semacam itu. Pagi harinya, seorang temanku bernama Idris sedang asik mandi di salah satu shower yang tersedia di kamar mandi dalam kamarnya. Kamar mandi memang memiliki dua shower dengan tirai sehingga bisa dipakai dua orang pada saat bersamaan.

Waktu Idris dalam posisi menghadap tirai, dia melihat sekelebat bayangan hitam melintas. Padahal, pintu kamar mandi itu biasanya berbunyi keras jika dibuka. Idris mengira, mungkin ada teman sekamarnya yang masuk, tapi dia tidak mendengar bunyi pintu karena bunyi air shower yang deras. Dan percaya nggak percaya, pada saat keluar dari kamar mandi, dia melihat semua penghuni kamarnya masih ngorok dengan pulasnya. Kamar si Idris dkk ini memang terkenal seram. Beberapa malam setelahnya teman yang lain juga mengalami pengalaman misterius di kamar itu. Dia langsung menyanyikan lagu-lagu rohani.

Temanku yang lain juga pernah melihat bayangan hitam pada saat belajar di lobi dormitory tetangga. Ia langsung merapal doa Bapa Kami.

Ya sudah, segini aja deh cerita seramnya…. jadi merinding sendiri….

cerita hantu : Aisyah

Malam itu di asrama anak laki-laki panas sekali. Dan Husein masih belum bisa tidur. Berkali-kali ia membalikkan badannya di tempat tidur sambil mengumpat-umpat.
"Kenapa aku harus tidur secepat ini? Aku kan sudah sehat!"
Sudah tiga hari ia menempati klinik asrama karena radang tenggorokan yang dideritanya. Sebenarnya sore itu dokter sudah menyatakan bahwa ia sudah sembuh, tapi ia hanya mengijinkan untuk kembali ke kamarnya esok paginya.
"Besok saja ya, sekarang kan tanggung, kamarmu yang dulu belum dibersihkan. Nanti kalau kamu sakit lagi gimana? Kamu nggak mau penyakitmu bertambah parah kan?" Dokter Hamed berujar sambil tersenyum. Suster Ema yang berdiri di samping pak
dokter ikut mengiyakan sambil mengacak-acak rambut Husein.
“Betul, Nak. Tadi waktu saya ke sana ternyata dinding sebelah kananmu masih dicat, dan kemungkinan baru selesai besok pagi. Sabar ya, Nak. Lagipula kamarmu yang ini kan jauh lebih luas dan jendelanya pun jauh lebih besar. Besok saja ya, Nak?”
Husein terpaksa menurut sambil bersungut-sungut. Sialan, umpatnya, bisa mati kebosanan aku di sini. Tinggal selama tiga hari di klinik asrama itu sendirian yang letaknya bersebelahan dengan kamar ibu asrama terasa tiga tahun baginya. Tidak ada televisi dan radio. Sungguh membosankan! Setiap hari yang dikerjakannya hanyalah membaca buku-buku cerita usang yang dipinjamnya dari Syahril, anak tukang kebun di asrama tersebut.
“Anak Kancil Bertemu Dengan Berry si Beruang Coklat..” Husein menggumam sambil jari jemarinya menyeruak halaman demi halaman buku cerita lusuh yang dipegangnya tersebut. Apa remaja seumur dia masih suka membaca buku cerita anak-anak seperti ini? Husein menggeleng-gelengkan kepalanya sambil diam-diam menertawakan Syahril yang memang penampilannya lugu dan polos. Pantas dia masih menjomblo, Husein tersenyum sambil membayangkan Syahril dengan sandal jepit biru dan kaos oblong kedodoran yang hampir setiap hari dikenakannya tersebut.
Hawa di ruangan kecil di samping kamar ibu asrama tersebut masih terasa panas. Tetapi Husein sudah tidak mengindahkannya lagi. Ia sedang asyik dengan cerita Kancil dan Beruang yang terdapat di hadapannya. Baginya tiada jalan lain untuk membunuh waktu yang membosankan tersebut dengan memaksakan dirinya memahami dan terlarut dengan setiap aluran cerita yang terpaksa direguknya kata demi kata.
Tak terasa waktu berlalu begitu cepat. Jam sudah menunjukkan hampir pukul setengah satu pagi. Sayup-sayup terdengar suara binatang malam bersahutan dari luar jendela kamarnya diiringi sesekali suara lembut hembusan angin yang bertiup di sela-sela cabang pepohonan akasia di samping kanan jendela kamar bercat putih tersebut.
Husein memandang ke arah jendela di sampingnya yang terbuka setengah. Angin malam berhembus masuk ke dalam kamarnya yang juga dicat putih. Huh, masih terasa panas, keluhnya sambil mengusap keningnya yang agak berkeringat. Kipas angin di atas kepalanya sudah lama tidak berfungsi lagi. Tangannya bergerak untuk membuka jendela itu lebih besar lagi ketika ia menangkap sesosok bayangan putih berkelebat di atas pohon tepat di seberang kamarnya.
Husein menggosok-gosokkan matanya. Apa itu, pikirnya penasaran.
Husein kini duduk dengan tegak di atas ranjangnya yang berderit-derit setiap kali ia menggerakkan tubuhnya yang sedikit gempal. Sosok itu kini terlihat jelas. Ia adalah sesosok wanita muda cantik yang sedang duduk duduk di atas dahan yang tinggi sambil menggerak-gerakkan kakinya dan bersenandung pelan. Seolah-olah ia sedang berayun-ayun di atas ayunan. Rambutnya terlihat hitam lurus ikut bergerak-gerak ditiup angin yang berhembus pelan. Parasnya lembut dan cantik. Wanita misterius itu terus saja asyik bersenandung seolah tak memperhatikan sepasang mata yang mengawasinya dari kejauhan.
Husein menatapnya tak berkedip. Jantungnya berdegup keras. Keringat dingin mulai membasahi sekujur tubuhnya. Tangannya gemetaran. Otaknya
seakan berhenti berputar. Dia hanya duduk terpaku menatap pemandangan di depannya.
Sekonyong-konyong wanita itu berhenti bersenandung dan dengan tiba-tiba menatap lurus ke arah Husein yang masih duduk terpaku di dalam kamarnya. Tatapannya tajam dan menusuk. Setajam tatapan elang yang hendak menerkamnya bulat-bulat dari atas pohon. Suasana bertambah hening mencekam. Husein merasakan seolah darahnya berhenti mengalir.
Sebelum Husein sempat menyadari apa yang sebenarnya sedang terjadi, tiba-tiba wanita itu „terbang‟melayang dari atas pohon tempatnya bertengger dan detik berikutnya wajahnya sudah berada dekat sekali di jendela. Mata mereka saling bertatapan satu sama lain. Wanita itu berdiri begitu dekat dengan wajahnya sehingga Husein bisa merasakan hembusan hawa dingin dari sosok di hadapannya itu. Saat berikutnya tiba-tiba saja wanita
itu tersenyum menyeringai. Wajah ayunya digantikan oleh paras yang tiba-tiba terlihat begitu menyeramkan. Taringnya yang panjang dan runcing menyeruak dari senyumnya yang jahat!
Husein tersentak! Dengan refleks ia menutup jendela dan meguncinya serta menutup tirainya rapat-rapat. Tubuhnya gemetaran hebat di atas ranjang. Detik berikutnya ia menjerit sekuatnya sambi berteriak-teriak minta tolong dan menyelubungi dirinya dengan selimut bergaris hijau yang selama ini tidak pernah dipakainya. Tapi kemudian ia teringat bahwa ibu asrama sedang keluar kota dan ia tidak tahu ke mana suster centil yang seharusnya berjaga di kamar sebelah. Sial! Sial! Sial! Sejuta kali SIAL! Ia berkali-kali mengumpat dalam hati.
Kemudian ia berusaha mengucapkan doa-doa yang pernah dipelajarinya selama ini. Entah karena gugup atau lupa, tidak satu pun doa-doa yang sempurna diucapkannya.
Tapi ia tidak peduli. Ia terus berusaha keras mengucapkan doa-doa sebisanya sampai ia kelelahan dan jatuh tertidur di balik selimutnya yang tebal. Beberapa saat kemudian ia terbangun karena merasa kegerahan. Tubuhnya basah kuyup oleh keringat. Pelan-pelan ia membuka selimut yang menyelubungi kepalanya sedikit demi sedikit dan mengintip keadaan kamarnya. Keadaan sunyi senyap. Jam dinding berdetak pelan dan lembut. Husein melirik ke arah jam tersebut. Sudah pukul 2.15 pagi.
Ia menyibakkan selimutnya dan berusaha untuk tidur lagi ketika ia mendengar suara langkah sepatu berhak tinggi di koridor di depan kamarnya. Mungkinkah itu ibu asrama yang baru datang dari luar kota?
Husein baru saja memejamkan matanya ketika ia mendengar seseorang membuka pintu kamarnya dan melangkah masuk ke dalam.
"Bagaimana keadaanmu hari ini, Sayang?" Suara suster Jane yang genit yang dikenalnya selama ini menenangkannya. Mendadak ia merasa lega karena ia tidak sendirian lagi di kamarnya. Parfum suster Jane mulai menyeruak memenuhi ruang tersebut.
"Eh, baik, Sus. Suster dari mana? Kok sudah selarut ini belum tidur?" Husein berkata. Matanya terkesima tatkala melihat tubuh suster Jane yang terbalut erat di balik seragam putihnya yang terlihat sangat ketat dan sesak. Ia kelihatan lebih cantik dari biasanya.
"Aku baru saja menemai Bu Christin menonton telivisi dan lalu aku jalan-jalan di luar sebentar, soalnya udara panas sekali sih hari ini," Suster Jane berkata pelan sambil mengusap-usap dahi Husein yang basah oleh keringat.
“Kamu sendiri kok belum tidur, Sayang?” Suster muda yang terlihat sangat cantik dan seksi itu tersenyum lagi. Ia begitu lembut dan penuh perhatian. Tangannya yang halus terasa sangat menentramkan hati Husein yang segera melupakan kejadian menyeramkan sebelumnya. Kini jantungnya mulai berdegup kencang lagi. Bukan karena takut. Tapi karena tubuh Suster Jane terlihat semakin indah tatkala ia mendekat untuk mengecup keningnya. Tak lama Husein pun merasa mengantuk dan ia mulai menutup matanya.
"Tidurlah, Sayang..." Suster Jane berkata lembut. Rambutnya yang harum menyapu lembut wajah Husein.
Husein membuka matanya kembali untuk mematikan lampu baca yang ada di samping tempat tidurnya ketika tanpa sadar ia melihat ke arah lantai dan menyadari bahwa yang selama ini dikiranya…..

cerita hantu : Malam jumat penuh darah

Di desa Bagong kilu Ada 4 pemuda yang duduk-duduk di Pos ronda,sebut saja mereka , Bin atang, Bin asa dan Bin tikbintik.
Sudah 3 jam mereka duduk di pos ronda itu dan kebosanan tampak dari wajah mereka.
"wuii,maen jelangkung yukk"usul Bin atang sambil mematikan rokok di matanya(anak ini memang mempunyai ilmu yang sakti dari lahir)
"untuk apa sih maen jelangkung??mending kalian maenin eike" kata si banci kaleng
"Hrokkk CUIHH!! maen aj lo sama babi" ledek Bin tikbintik
"kita maen Jelangkung di belakang rumah Pak Rt aj untuk memperoleh Wangsit dari setan yang sering berkeliaran di sana".
Menurut cerita masyarakat, Konon di tempat itu sering terdengar suara wanita yang bernyanyi, tapi ada yang mengatakan kalau suara wanita bernyanyi itu adalah suara Istri Pak Rt yang sedang ngefans-ngefansnya sama Linkin Park dan terkadang terlihat sendalSundel Bolong yang duduk di atas pohon pete tua.
Sesampainya di belakang rumah Pak Rt, Bin atang mengeluarkan Jelangkung dari Tasnya dan tanpa basa-basi Bin asa langsung membacakan mantra
"Jelangkung jelanta"
"datanglah kemari"
"di sini ada pesta"
"pesta minuman keras"
"datang tak di jemput"
"Pulang naek Ojek" 300X
6 JAM KEMUDIAN SETELAH MULUT Bin asa BERBUSA KARENA MEMBACAKAN MANTRA
"kok ga dateng-dateng y?" kata Bin asa sambil menggaruk-garuk kontolbokongnya.
"Adyuhhh,pusyinggggg. eike uda g tahan nih bokkk uda buanyak nyamyukk buecwek lagi" kata sambil menggaruk kontolbokong Bin asa
"BABI MARANEH KABEHH!!, Mantranya salah babi!! dieu aing anu bacakan mantranya" Bin tikbintik langsung duduk bersila di depan Bin atang.
"Jelangkung Jelangset"
"kadieu euyy kadieu"
"di dieu aya pesta"
"Pesta inuman teuas"
"Datang di jemput"
"Balik di antar euyyyy" 500X
Tiba-tiba Terdengar suara Gemuruh petir JGAARRRR
"Merinding aing euy" kata Bin tikbintik
"Merinding eike bokk~"
Hujan pun turun lebat
Dan Mereka berlarian seperti PSK yang di kejar Satpol PP
GUBRAKKK
kaki Bin tikbintik masuk kedalam kali karena anak ini berlari seperti seekor babi hutan yang membabi buta
Dan kakinya berdarah
SELESAI

cerita hantu : Kuyang parahiyangan

Malam di Parahiyangan terasa mencekam, sayup-sayup terdengar gesekan batang bambu di pinggiran rawa. Sesekali terdengar sahutan burung malam dari kejauhan. Desau angin berhembus pelan. Suasana terasa sangat berbeda dengan desa sebelah, Kararai. Remaja berjaga-jaga disekitar rumah Ambrosius sambil membawa obor. Hawini isterinya hendak melahirkan. Kebiasaan di desaku. Malam merangkak jauh. Banyak penjaga yang terlelap. Obor-obor masih tetap menyala menerangi pelataran rumah. Aku pun ikut terbawa suasana lengang, dalam keadaan setengah sadar kulihat makhluk api sebesar lampu petromak berada diatas atap rumah Ambrosius. “Kuyang…!” Teriakku lantang Kontan saja para penjaga bangun dan menghunus senjata. Ada yang membawa mandau, tongkat, batu dan juga parang panjang. “Mana?” “Itu di atas atap!” Makhluk itu ternyata mengetahui kesigapan kami, dan langsung terbang melayang keluar desa Parahiyangan “Kejaa…r!!” kelengangan berubah riuh. Pengejaran tak membuahkan hasil. Hantuwen itu lenyap tanpa bekas. Semua kembali dengan memendam geram. Di rumah Ambrosius. “ Bayinya sudah membiru….!” Teriak salah satu dari mereka. Bayi yang baru dilahirkan itu kehabisan darah, nyawanya tak bisa diselamatkan. Rupanya Hantuwen tadi telah berhasil menghisap darahnya. Hawini yang mendengar perkataan itu menangis, meraung-raung, sampai tak sadarkan diri. Hantuwen Kuyang itu adalah wanita jadi-jadian. Untuk mengawetkan tubuhnya agar tetap muda, makhluk itu harus meminum darah orok. Bila ada orang mau melahirkan, makhluk itu akan menjalankan ritualnya, maka tidak jarang setiap malamnya banyak makhluk-makhluk api berseliweran dilangit. Makhluk api itu sebenarnya adalah kepala dan isi tubuh dari manusia jadi-jadian tersebut, dalam ritualnya, badan mereka akan disimpan disuatu ruangan rahasia atau tempat tersembunyi. Dengan cara mengoleskan minyak bintang disekeliling leher setelah itu kepala serta isi badan akan terpisah dengan sendirinya. Hantuwen Kuyang tidak akan bisa kembali menjadi manusia jika badan yang ditinggalkannya di balik seseorang. Begitulah cerita-cerita yang aku dengar dari ninih Marus, tetanggaku.. *** Suara adzan baru selesai dikumandangkan, menandakan bahwa setiap santri yang mengaji harus segera menyudahi pelajarannya. Inilah yang menarik dari desaku, toleransi beragama, walaupun mayoritas di sana beragama Kristen. Tiap-tiap masuk waktu shalat, kumandang suara adzan akan selalu menghiasi sudut-sudut kampung. Kami pulang berjalan kaki sambil membawa obor. Kerlap kerlip obor berjajar memanjang bagai untaian berlian di tengah kegelapan. Pemandangan demikian selalu menghiasi malam seusai pulang mengaji. Satu persatu dari kami berpisah menuju rumah masing-masing. Rumahku dan Ja’far berdekatan berada paling ujung desa Parahiyangan dan harus melewati hutan bambu yang lebat. Sebenarnya ada jalan lain, tetapi selain lebih jauh juga harus melewati pemakaman yang angker, aku memilih lewat jalan dekat walaupun ada hutan bambunya. Sambil membawa obor sebagai penerang aku berjalan di depan. “Anwar, kamu yakin mau lewat sini?” Ja’far bertanya sambil membuntuti langkahku. ”Daripada lewat pemakaman” jawabku sekenanya menurut teman-temanku, Hantuwen Kuyang selain menjalankan ritual di kamar khusus biasa juga ditempat-tempat sepi, seperti hutan bambu atau rumah-rumah kosong Kami hampir sampai hutan bambu, keringat dingin membanjiri baju koko yang kukenakan. Aku tak tahu apa yang terjadi dengan Ja’far, yang jelas sejak memasuki hutan bambu, tangannya tak pernah melepas. Sudah separuh hutan bambu terlewati. “ Jangan cepat-cepat!” Aku tak menanggapi omongan Ja’far, mataku menangkap cahaya terbang dilangit meluncur cepat ke tempat yang tak jauh dari kami berdiri. “Ja’far…kamu melihatnya?” “apa?” “Hantuwen Kuyang…” belum selesai aku berucap, Ja’far sudah memeluk erat tubuhku. “Anwar, yang benar kamu?” “B…enar!Aku penasaran ingin melihatnya, tadi jatuh kearah pohon pisang itu” ucapku kemudian. Rasa takut yang sejak tadi menguasaiku seolah sirna oleh rasa keingintahuanku, aku hanya mendengar cerita dari teman mengenai makhluk itu, saat ini aku berkesempatan mengetahuinya sendiri. Pasti akan menjadi berita heboh esoknya. “ kau ikut tidak?” tanyaku kemudian “ yang bener kamu?” Ja’far balik bertanya. “he…eh” Lampu obor kami matikan, sandal jepit kami lepas. Kebiasan kami jika hendak lari kencang, dan memang kami melakukannya saat ini. Batang-batang bambu yang lebat menjadikan kami sulit mengetahui lebih dekat pohon pisang tempat makhluk api tadi meluncur. Barulah setelah merangkak pelan dan melewati batang bambu yang tumbang, kami baru bisa mendekati pohon pisang itu. Dari jarak kira-kira tiga meter aku bisa melihat dengan lamat-lamat. Jasad tengkurap di tanah beralaskan kain putih. Tak jauh dari jasad itu ada peralatan ritual yang tak satupun aku mengerti, mungkin salah satu dari peralatan itu ada minyak bintang yang berguna memisahkan jasad dan kepala tanpa rasa sakit. Jasad itu berdiri terhuyung-huyung, kemudian benar-benar tegak berdiri. Merapikan pakaian yang ia kenakan. Dan pergi kearah jalan yang kami lewati menuju kearah musholla tempat kami mengaji. Sangat dekat dengan tempat persembunyian kami. Rambutnya panjang rapi, dengan baju setengah badan menampakkan sebagian payudaranya, bau minyak bintang menyeruak kerongga hidung. “S..stt bukankah itu Dulueloy wanita desa kita, ada apa malam-malam begini ia kesini?” bisikku pelan “Iya, berarti benar Dulueloy wanita jadi-jadian itu?” “mungkin” Hampir satu jam-an kami masih bersembunyi, setelah memastikan wanita tadi telah pergi jauh, baru kami keluar. Dan berlari sekencang-kencangnya. “Anwar…!! Aku tidur di rumahmu ya?” pinta Ja’far di sela-sela larinya. “ Iya. Nggak pa pa” Setelah mendekati poskamling kami berhenti berlari. Suasana sudah terang karena banyak obor-obor dipelataran. Satu dua penjaga bercengkrama di pos sambil bermain kartu. “ War… menurutmu gimana setelah melihat hal tadi?” “kita tidak bisa langsung mengambil keputusan , bisa jadi kita salah lihat. “ “Tapi aku yakin, aku berani sumpah dia itu Dulueloy, warga desa kita. Apa kamu tidak lihat rambutnya yang panjang, bukankah di daerah ini rambutnya pendek-pendek, hanya dia yang rambutnya panjang. Lihatlah cara dia berpakaian, seronok memamerkan tubuh moleknya. Bukankah itu semua hanya ada pada dia. Aku bisa memastikan Dulueloy wanita jadi-jadian itu” “ Iya, tapi kita tetap tidak bisa langsung menuduhnya, banyak kemungkinan-kemungkinan lain” ucapku pelan. *** Bulan telah berganti. Musim kemarau datang, udara yang dibawa dari perbukitan terasa kering dan panas. Daun-daun pohon karet menguning, meranggas, jatuh. Siang menjadi lengang, tak banyak yang lalu lalang, mereka lebih senang bercengkrama dengan keluarga. Dan malam selalu dinanti. Anak-anak berkumpul di balai desa, macam –macam saja permainannya. Hantuwen Kuyang menghilang. Hingga suatu sore, ketika hujan deras, aku benar-benar melihat sendiri, Dulueloy pergi ke arah hutan bambu. Ku ikuti langkahya dari kejauhan, dan ia berhenti di bawah pohon pisang. Mengeluarkan sesuatu dari tasnya, sebuah botol minyak. Ia oleskan disekeliling leher, dan berbaring ditanah yang beralaskan kain putih. Kepala itu bersama organ tubuh tiba-tiba keluar melesat kelangit. Aku gemetaran melihatnya, tak kusangka Dulueloy benar-benar wanita jadi-jadian itu. Aku ingat, kata ninih Marus, jika jasad Hantuwen Kuyang yang terpisah dari kepalanya dibalik, maka makhluk itu tidak akan bisa kembali menjadi manusia. Selamanya. Aku beranikan untuk melukan hal ini, ku balik jasad yang terbaring itu. Lantas mengambil minyak bintang yang berada tak jauh dari tas. Buru-buru aku berdiam di kamar mengurung diri. *** Esoknya, pemakaman di kampungku ramai, Dulueloy meninggal tanpa ada yang tahu apa penyebabnya. Aku tak mau memberitahu mereka, tentang peristiwa yang aku alami. Minyak bintang yang ku bawa telah kubuang ke sungai. Hantuwen Kuyang tidak akan bisa mengambilnya, karena Hantuwen itu paling takut dengan air. Desaku akan hidup tentram. Tapi aku pun tak yakin kalau wanita jadi-jadian itu benar-benar sudah lenyap. Malam baru usai, ditandai cahaya fajar lamat-lamat menerobos celah-celah dedaunan bambu. Di ujung jalan desa Parahiyangan, seorang wanita asing berjalan gontai masuk melewati batas perkampungan. Rambutnya panjang rapi, dengan baju setengah badan menampakkan sebagian payudaranya. Tangannya yang putih halus melambai lemah ke arahku. Lamat-lamat, bau yang sudah benar-benar kukenal, menusuk rongga hidungku, aroma minyak bintang. Aku tersentak…..Selesai…….